Selasa, 11 Januari 2011

SITUS PURBAKALA YANG ADA DI INDONESIA

SITUS SANGIRAN
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km² dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu. Secara administratif Sangiran terletak di kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.
Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut.
Di Museum Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga, dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.
Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.
Sangiran merupakan situs prasejarah yang berada di kaki gunung lawu, tepatnya di depresi Solo sekitar 17 km ke arah utara dari kota solo dan secara administrative terletak diwilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di kabupaten karanganyar, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 56 KM yang mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen. Surat keputusan Menteri Pendidikan & Kebudayaan NO 070/0/1977, Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya dengan luas wilayah 56 KM, dan selanjutnya Sangiran pada tahun 1996 oleh UNESCO ditetapkan sebagai World Heritage dengan nomor 593.
Menurut sejarah Geologi, daerah Sangiran mulai terbentuk pada akhir kala plestosen. Situs Sangiran terkenal karena mempunyai stratigrafi yang lengkap dan menjadi yang terlengkap di benua Asia, sehingga itu diakui dapat menyumbangkan data penting bagi pemahaman sejarah evolusi fisik manusia, maupun lingkungan keadaan alam purba. Stratigrafi di kawasan situs Sangiran menunjukkan proses perkembangan evolusi dari lingkungan laut yang berangsur-angsur berubah menjadi lingkungan daratan, seperti tercermin dari fosil-fosil yang ditemukan pada masing-masing formasi. Berdasarkan proses terbentuknya & kandungannya, lapisan tanah situs Sangiran dibedakan menjadi lima lapisan.
Lapisan-lapisan tanah situs Sangiran

Formasi Kalibeng

Lapisan tanah terbawah dan memiliki umur paling tua, terbentuk pada kala Pliosen sekitar 2 juta tahun yang lalu. Mendominasi pusat kubah sangiran, formasi kalibeng dicirikan oleh endapan laut dan gamping. Pada lapisan ini tidak ditemukan fosil mamalia tetapi fosil moluska.
Formasi Pucangan
Formasi ini berada diatas lapisan atau formasi kalibeng. Formasi ini berupa lempung hitam dan mulai terbentuk sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dari endapan lahar Gunung Merapi purba dan Gunung Lawu purba. Formasi Pucangan banyak mengandung fosil manusia purba dan hewan mamalia
Grenzbank
Terletak diatas formasi Pucangan. Lapisan ini terdiri atas konglomerat silikaan stadium lanjut, Lapisan ini dipakai sebagai tanda batas antara Formasi pucangan dan Formasi Kabuh. Lapisan ini terdiri dari elemen laut dan kerikil terbentuk akibat erosi pegunungan selatan dan Kendeng, Pada Grenzbank banyak ditemukan hewan mamalia, ditemukan pula fosil Homo Erectus.

Formasi Kabuh
Berupa endapan sedimen vulkanik berfasies fluviatil (pasir silang-siur). Endapan ini terjadi karena aktivitas Gunung Merapi dan Gunung Lawu purba yang terjadi pada kala plestosen tengah (500-600 ribu tahun yang lalu). Kaya akan temuan fosil manusia purba ditemukan pada formasi ini.
Formasi Notopura
Berada pada lapisan teratas di situs Sangiran. Terbentuk karena akibat dari aktivitas Gunung Berapi pada kala plestosen atas (250.000-70.000 tahun yang lalu). Lapisan ini ditandai oleh endapan lahar, breksi dan pasir juga banyak ditemukan alat serpih dan fosil kerbau dan kijang.
Lingkungan Situs Sangiran dan Kebudayaannya
Sangiran merupakan sebuah kubah yang terbentuk oleh adanya proses deformasi, baik secara lateral maupun vertikal. Proses erosi pada puncak kubah telah menyebabkan terjadinya reverse, kenampakan terbalik, sehingga daerah tersebut menjadi daerah depresi. Bagian tengah kubah sangiran ditoreh oleh kali Cemoro sebagai sungai enteseden, sehingga menyebabkan formasi batuan tersingkap dan menunjukkan bentuk melingkar. Pada kala pliosen daerah ini menjadi laut dangkal kemudian terjadi gunung berapi akibatnya terjadi formasi Kalibeng, adanya regresi lebih lanjut pada daerah ini menyebabkan Sangiran menjadi daratan. Pada permulaan kala Plestosen bawah kegiatan Vulkanis semakin meningkat, sehingga terjadi aliran lahar dingin dan membentuk breksi vulkanik. Fosil Meganthropus mungkin muncul pada saat kegiatan vulkanis meleleh. Pada kala plestosen tengah, sangiran menjadi daratan lagi, disusul dengan kegiatan vulkanis yang makin menghebat sehingga menimbulkan endapan tufa yang berlapis-lapis, proses pengangkatan tanah pada daerah ini terjadi pada kala plestosen atas dan awal kala Holosen. Adanya pelapukan dan erosi pada puncak kubah, serta pengendapan material kali Cemoro, menyebabkan kenampakan sangiran menjadi seperti sekarang ini. Manusia yang hidup pada saat itu misalnya Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, dan phitecanthropus soloensis.
Secara umum situs sangiran saat ini merupakan daerah berlahan tandus, terlihat dari banyaknya tempat yang gundul tak berpohon. Hal ini disebabkan karena kurangnya akumulasi sisa-sia vegetasi yang mengalami humifikasi membentuk humus. Jenis tanaman yang ada di Situs Sangiran, antara lain lamtoro, angsana, akasia, johar, sengon mahoni. Terdapat sungai-sungai yang terus melakukan deformasi di situs sangiran antara lain adalah Kali Cemoro dan Kali Ngrejeng. Sungai ini memiliki peranan bagi masyarakat sekitar. Bukti-bukti kehidupan ditemukan di dalam endapan teras sungai purba. Di daerah tropis ini tidak banyak mengalami perubahan iklim dan memungkinkan manusia purba untuk hidup.
Pada tahun 1934, daerah Jawa dipakai sebagai ajang penelitian manusia purba dan alatnya. G.H.R Von Koenigswald melakukan penggalian pada sebuah bukit di sebelah timur laut sangiran, menemukan sebuah alat batu yang berupa serpih. Teknologi yang lebih baik menggambarkan perkembangan keterampilan yang dimiliki oleh manusia pendukungnya yang hidup di Sangiran. Alat-alat yang dihasilkan, setingkat lebih maju dibandingkan dengan alat-alat sejenis dari himpunan alat Pacitan. Alat Pacitan diperkirakan berasal dari kala plestosen tengah bagian akhir. Sedangkan alat-alat batu sangiran ditemukan di lapisan tanah kala plestosen atas pada formasi Notopuro. Alat-alat yang banyak ditemukan adalah serpih, dan bilah. Sebagian alat-alat serpih Sangiran berbentuk pendek, lebar dan tebal, dengan panjang antara 2-4 Cm. Teknologi yang umumnya digunakan pada alat batu Sangiran adalah teknik clacton, dengan ciri alat serpih tebal. Selain itu untuk mendapatkan bentuk-bentuk alat yang diinginkan lebih khusus, dilakukanlah penyerpihan kedua. Disamping alat serpih dan bilah yang kemungkinan digunakan sebagai alat pemotong dan penyerut kayu, ditemukan juga alat-alat yang terbuat dari batu lain, yaitu: bola batu, kapak batu, serut, beliung persegi, kapak perimbas, batu inti, dll. Bahan yang digunakan untuk untuk peralatan tersebut adalah kalsedon, tufa kersikan, kuarsa,dll. Alat-alat pada situs Sangiran merupakan hasil teknologi kala plestosen yang dicirikan dengan pola perburuan binatang dan pengumpulan makanan sebagai mata pencahariannya. Kemungkinan juga berdasarkan ukuran alat-alat Sangiranyang relatif kecil;, telah ada kecenderungan untuk memilih hewan buruan yang lebih kecil
SITUS TRINIL
Trinil adalah situs paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (kira-kira 13 km sebelum kota Ngawi dari arah kota Solo). Trinil merupakan kawasan di lembah Sungai Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Plistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.
Pada tahun 1891 Eugène Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa yaitu spesimen manusia Jawa. Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus serta fosil hewan dan tumbuhan purba lain.
Saat ini Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektar, dimana koleksinya di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada.
SITUS LIANG BUA
Liang Bua (berarti "gua/lubang sejuk" dalam bahasa Manggarai) adalah salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Gua ini terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. dan merupakan tempat penemuan makhluk mirip manusia (hominin) baru yang dinamakan Homo floresiensis pada tahun 2001.[1]
Secara geologi, gua ini merupakan bentukan endokars yang berkembang pada batu gamping yang berselingan dengan batu gamping pasiran. Batuan gamping ini diperkirakan berasal dari periode Miosen tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lampau. Kawasan kars di NTT ini, sebagaimana kawasan kars di tempat lain di Indonesia, juga memiliki ciri-ciri khusus yang berlainan dengan kawasan kars lainnya.
Liang Bua dan gua-gua lainnya sekawasan telah digali secara arkeologi sejak tahun 1930-an. Temuan-temuan dari masa ini dibawa ke Leiden, Belanda. Penggalian dan penelitian dilanjutkan oleh tim pimpinan H.R. van Heekeren pada tahun 1950-an, lalu diteruskan oleh Th. Verhoeven, seorang pendeta Katolik. Timnya menemukan antara lain rangka sangat pendek (tetapi tidak katai) di Liang Toge, di samping tulang-tulang di Liang Bua, Liang Momer, dan lain-lain.[2] Kerangka-kerangka ini adalah H. sapiens. Peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian di sana adalah A.A. Sukadana, ahli antropologi ragawi dari Universitas Airlangga, pada tahun 1960-an menemukan pula sisa-sisa manusia termasuk rahang bawah, di Liang Bua. Dari tahun 1978-1989, Prof. R. Panji Soejono menemukan antara lain tulang paha di Liang Bua. Sisa-sisa kerangka dari periode awal hingga terakhir tersimpan di Leiden, London, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Flores. Penelitian selanjutnya dihentikan karena tidak ada pendanaan. Penelitian baru berlanjut setelah ada kerja sama antara Puslit Arkenas (dipimpin R.P. Soejono) dan Universitas New England, Australia (dipimpin Mike Morwood).[3]
Pada bulan September 2003 ditemukan kerangka unik yang kemudian diidentifikasi sebagai H. floresiensis. Bersamaan dengan manusia purba itu ditemukan pula perkakas batu yang dikenal telah digunakan oleh Homo erectus (seperti yang ditemukan di Sangiran) serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar.
SITUS GUNUNG PADANG
Situs Gunung padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tapaknya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.
Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.
Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.
Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.
Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.


SITUS PURBAKALA GILIMANUK
Situs Purbakala Gilimanuk adalah sebuah situs purbakala masa perundagian Gilimanuk yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Negara, Bali. Situs ini pertama kali ditemukan tahun 1960-an. Pada situs seluas ±4km persegi ini ditemukan kerangka dalam tempayan serta berbagai manik-manik, gerabah, serta barang-barang perunggu yang merupakan sisa kegiatan masyarakat pada masa prasejarah Indonesia sekitar 2000 tahun yang lalu (menjelang masa Hindu-Buddha).
Situs ini menunjukkan budaya penguburan yang sama dengan banyak situs purbakala lain di Indonesia, yaitu jenazah yang dimasukkan dalam tempayan. Situs lain yang menunjukkan budaya ini misalnya Situs Purbakala Plawangan.
SITUS PATI AYAM
Patiayam berada di kaki gunung Muria, tepatnya di salah satu bukitnya, yaitu gunung Slumpit, terdapat konkresi breksi vulkanik yang diikuti oleh puluhan mater pasir dan lempung tufaan. Situs Patiayam itu sendiri merupakan bagian dari endapan purba hasil letusan gunung Muria. Temuan-temuan yang dihasilkan dari situs ini adalah sisa-sisa manusia purba Erectus yang berupa 1 buah gigi prageraham bawah dan 7 buah pecahan tengkorak manusia, yang diternukan oleh Dr. Yahdi Yain dari Geologi ITB Bandung tahun 1979. Temuan yang lain berupa tulang belulang binatang purba antara lain : Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas sp (sejenis Gajah), Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus, sp (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus/Ydekkeri martim (sejenis Rusa) Corvidae (Rusa), Chelonidae (Kura-Kura), Suidae (Babi Hutan), Tridacna (Kerang laut), Hipopotamidae (Kudanil). Temuan fosil-fosil di Patiayam memiliki keistimewaan daripada fosil temuan di daerah lain. Hal ini dikarenakan sebagian situs yang ditemukan bersifat utuh.
Baru-baru ini juga ditemukan fosil tulang paha manusia purba, diperkirakan fosil tulang paha tersebut merupakan tulang manusia purba yang sezaman dengan fosil gading gajah purba (Stegodon) hal ini berarti fosil tulang paha tersebut hidup pada masa Pleistosen-Pleistosen yang terdapat suatu masa hidup manusia purba Pithecantropus erectus dan Homo erectus. Menurut teori evolusi dari Charles Darwin kedua makhluk purba ini adalah asal usul manusia modern.
Temuan-temuan tersebut berasal dari batu lapisan batu pasir tufaan (Tuffaccorrs Sandstones), yaitu yang menurut Prof. Dr. Sartono dkk, merupakan jenis litologi dari formasi Slumprit yang terbentuk kala plestozen bawah. Oleh karena itu, fosil-fosil tersebut menunjukkan usia antara 700.000 tahun hingga 1 juta tahun. Dalam peninjauan ini juga ditemukan fragmen-fragmen fosil vertebrata yang diendapkan dalam lapisan tufa konglomeratan, jenis litologi penyusun formasi Slumprit. Fosil-fosil binatang dari formasi Kedungmojo ini jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dari formasi Slumprit dan ditafirkan berusia kala Plestosen tengah, sektiar 500.000 tahun lalu. Oleh karena itu, fosil-fosil yang ditemukan di Situs Patiayam ini menunjukkan bentang usia dari 1 juta tahun hingga 500.000 tahun yang lalu.
Dari berbagai temuan fosil yang telah disebutkan ada fosil yang menjadi kebanggan dari situs Patiayam yaitu penemuan-penemuan gading gajah yang sangat panjang ukurannya yaitu sekitar 3 meter lebih. Kedua gading ini tidak berasal dari satu gajah walaupun panjangnya hampir sama tetapi lekung dan besarnya berbeda. Fosil gading gajah ini ditemukan di hutan petak no. 21 Desa Terban Kecamatan Jekulo kabupaten Kudus. Sekarang, benda tersebut menjadi koleksi Museum negeri Ronggowarsito Semarang.
Selain ditemukan berbagai macam fosil-fosil manusia purba dan hewan-hewan purba, Situs Patiayam juga ditemukan berbagai macam alat-alat batu manusia purba seperti Serut, Kapak Perimbas ( Chopper) ,dan Gigantolith.
Sejauh ini peninggalan fosil-fosil manusia purba dan hewan-hewan purba masih disimpan di rumah penduduk sekitar Situs Patiayam dan di Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kudus.
Menurut Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Harry Widiarto yang formasi lapisan di situs Patiayam ada 4 yaitu nilai sejarah yang tinggi adalah ditemukannya gigi dan tujuh buah fragmen tengkorak manusia purba berjenis hitecanthropus erectus. Menurut beliau lokasi tempat ditemukannya fosil-fosil di situs Patiayam dapat dibagi menjadi empat formasi. Formasi berarti satuan dari lapisan barjan yang terdapat di kawasan yang begitu luas, keempat formasi tersebut adalah sebagai berikut.
a. Formasi Jambe (Meosin Akhir)
Terbentuk pada saat dahulu Muria dan Pulau Jawa terpisah, itulah keadaan yang terjadi yaitu ketika zaman meosin akhir terbentuk. Ini terbukti dengan ditemukannya sumur yang airnya asin di sekitar daerah patiayam salah satunya di daerah gondoharum. Pada zaman inilah formasi di Patiayam merupakan formasi Jambe. Pada formasi jambe biasanya bantuan yang menyusun lapisan adalah bantuan lempung.
b. Formasi Kancilan
Dari daerah yang tadinya merupakan komposisi lempung tadi kemudian terbentuknya formasi kancilan yang diakibatkan karena adanya pengangkatan daratan pada masa plestosen dan aktivitas gunung Muria. Batuan yang ada pada masa itu merupakan campuran dari batuan lempung dan breksi. Keadaan ini terjadi hingga akhir masa plestosen.
c. Formasi Slumprit
Formasi ini terbentuk sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Setelah aktivitas gunung Muria mulai merdeka. Saat inilah terjadi pengendapan sungai dimana terdapat batuan pasir oleh karena itu di situs ini banyak ditemukan sehingga fosil vertebrata dan molusca air tawar. Fosil vertebrata yang ditemukan adalah gajah, rusa, ikan, dan kadal. Inilah yang kemudian dinamakan formasi yang paling banyak ditemukan fosil-fosil tadi. Sayangnya, zaman di mana formasi slumprit terjadi harus berakhir ketika pada akhir berakhir pada masa plestosen tengah.
d. Formasi Suko Bubuk
Terbentuk pada akhir plestosen tengah, terjadi erosi gunung Api Muria Muda. Endapan lahar yang ada adalah bersifat affloforat. Pada masa inilah disebut dengan formasi Solo Bubuk. Empat formasi itulah yang merupakan pusat penemuan jejak-jejak masa lampau di situs tersebut. inilah yang membuat situs ini kaya akan segala macam jenis fosil.
Situs Patiayam juga memiliki nilai-nilai penting. Antara lain :
1. Merupakan salah satu dari sedikit situs manusia purba di Indonesia
2. Mampu memberikan gambaran mengenai evolusi lingkungan purba tanpa terputus selama dua juta tahun terakhir.
3. Mewakili fase kehidupan manusia selana satu tahun terakhir.

Menurut hasil penelitian tahun 2006 Situs Patiayam merupakan situs terlengkap. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya :
1. Manusia purba (Homo Erectus)
2. Fauna vertebrata dan fauna invertabrata
3. Alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba ditemukan dalam satu aeri pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal satu juta tahun yang lalu.

Patiayam merupakan sebuah perbukitan di kaki gunung Muria yang banyak ditemukan fosil manusia purba dan binatang purba sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), sehingga kawasan tersebut mamerlukan perlindungan dan penyalamatan. Perlindungan dan penyalamatan bertujuan agar BCB tersebut dapat dimanfaatkan untuk memajukan kebudayaan dan pendidikan Bangsa Indonesia. Selama ini Pemkab Kabupaten Kudus sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan dan melesarikan Situs Patiayam yang merupakan situs Prasejarah ikon nasa depan dengan bekerja sama dengan Balai Arkeologi Yogyakarta untuk penalitian dan ekskavasi, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala ( BP3 ) Jawa Tengah, dan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jateng. Selain itu Pemkab Kabupaten Kudus telah menyusu MASTERPLAN Pengembangan Kawasan Situs Patiayam dan RTBL atas kegiatan strategis prioritas yang disangga dengan kegiatan Wisata Alam dan Wisata Budaya yang pengenbangannya berbasis kelestarian dan kearifan lokal.
Sejauh ini masterplan yang merupakan acuan dalam pengembangan dan pelestarian kawasan situs Patiayam sebagai Pusat Pengembangan Sejarah Kepurbakalaan dan atraksi Wisata di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah belum ditindak lanjuti secara optimal. Hal ini dikarenakan karena kondisi sarana prasarana pendukung utamanya dalam hal dana belum tersedia. Selain itu belum turunnya izin penggunaan tanah dari Menteri Kehutanan sebab secara administratif Situs Patiayam tanahnya masih milik Perhutani KPH Kabupaten Pati.
Situs Patiyam merupakan tempat yang tempat untuk melakukan perjalanan kembali ke masa prasejarah. Banyak hal yang bisa dipelajari di situs ini, antara lain tentang kehidupan di masa lalu dan tentang misteri evolusi makhluk hidup yang sangat menarik untuk diungkap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar